Sabtu, 28 Oktober 2017 - 21:03:56 WIB
Film Wage Angkat Kisah Pencipta Lagu Indonesia Raya
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: HEADLINE


XXI DjakartaTheater Sarinah Thamrin Jakarta Pusat., (kabar-kini.com) -
Film tentang kisah hidup pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf (WR) Supratman, siap tayang pada 09 November 2017 mendatang di bioskop Tanah Air.

Film berjudul Wage tersebut diproduksi Opshid Media dan diprakarsai oleh M Subchi Azal Tsani selaku eksekutif produser. Film itu berada di bawah supervisi penuh oleh Kyai Mochammad Muchtar Mu thi.

Film Wage mengeksplorasi perjalanan kepahlawanan WR Supratman dalam menelurkan lagu-lagu seperti lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu lainnya untuk terus mengenang jasa beliau sebagai pahlawan. Film ini diharapkan dapat meneladani aksi-aksi kepahlawanan WR Supratman dalam akvititas kekinian sebagai generasi milenial.

Supratman dalam akvititas kekinian sebagai generasi milenial Siapakah pemeran WAGE di film Wage? Dia bukanlah salah seorang aktor papan atas. Adalah RENDRA, nama lengkapnya Rendra Bagus Pamungkas. Memang pendatang baru di dunia mm yang belum banyak dikenal masyarakat. Dia kelahiran Kandangan Kediri, 21 Maret 1984. Mengenyam pendidikan teater di 18] (Institut Seni Indonesia), Jogjakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, lantas melanjutkan ke pendidikan ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma, juga di Jogja.

Prestasinya di dunia teater dimulai dari penulisan naskah, seni peran, hingga penyutradaraan. Kini langkah awalnya di dunia film tercatat sebagaj pemeran utama WAGE setelah dipertemukan dengan sutradara John De Rantau.

Memerankan seorang tokoh yang besar seperti Wage Supratman tentu tak mudah dan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang aktor. Akan menjadi sebuah ketidaksopansantunan apabila karakter Wage dibangun dengan cara yang tidak sepantasnya.

Namun, Rendra memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan karakter yang diamanatkan padanya itu. Mengutjp perkataan John De Rantau yang disampaikan kepadanya, "ada berbagai pendekatan untuk tokoh. Salah satunya adalah dengan cara kamu seperti tidak mengenal dia. Dan kamu percayai bahwa udak ada seorang pun yang mengenal dia. Dan hanya kamu yang bisa menghidupkan karakternya dalam versimu, dengan semua perangkat pengetahuanmu yang sudah kamu tanamkan dalam dirimu".

Itulah yang dipegang Rendra selama prosesnya memerankan Wage, bahwa benar-benar ia tidak menggunakan rasio ketika memerankan beliau, melainkan mengutamakan rasa, "dan alhamdulilluh, qodarulloh, ketika aku memerankan Wage, badanku rasanya seperti dituntun dengan sangat baik dan halus sekali. Aku hanya berbekal bismiilah, dan aku. benar-benar memulai setiap aktifitas shooting dengan berdoa terlebih dahulu", ungkapnya.

Sampaj di mana kualitas akting serta eksplorasnya terhadap karakter Wage? Dan patutkah Rendra dimasukkan ke daftar jajaran aktor masa ldni? Perlu kita buktikan sendiri dengan menonton WAGE yang tayang mulai Kamis 9 November 2017 di ratusan layar bioskop di tanah air.

Sebagai lawan majn Rendra, tokoh Fritz, reserse Indo-Belanda berkumis, diperankan TEUKU RIFNU WIKANA. Aktor watak kelahiran Pematang Siantar, 3 Agustus 1980 ini sudah bermain 42 judul film sejak debutnya, Mengejar Matahari (2004). Mulai mencuat sejak berperan sebagai pak guru Bakri dalam Laskar Pelangi (2008), dan pemah memerani Joko Widodo dalam Jokowi (2013).

"Lho, saya bukan tokoh antagonis, justru saya protagonisnya, sebagai hamba hukum yang memburu tokoh ekstremis pemberontak," tegas Wikana, "Ingat pada tahun 1928 belurn ada Republik Indonesia, yang berdaulat atau pemerintah yang sah adalah Hindia Belanda!"

Tak urung peran dua musuh bebuyutan antara Wage dan Fritz, lekat pada si buronan Jean Valjean dan Inspektur Polisi Javert dalam karya klasik Victor Hugo, Les Miserables (1862), yang telah puluhan kali difilmkan.

Sebagai sutradara sekaligus produser WAGE, John De Rantau tak menampik kemiripan ini. "Tokoh Fritz memang unik, di negeri Belanda tidak diakui, hingga kembali ke Indonesia, dan di sini, pribumi pun tidak menerimanya, karena itulah dia penuh dendam kesumat serta membenci Wage sampai ke sumsum tulangnya!"

Sineas kelahiran Padang, 2 Januari 1970 ini, tereatat sebagai lulusan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tahun 1998. Filmographinya; Mencari Madonna (2004). Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Obama Anak Menteng (2010), dan Semesta Mendukung (2011). Prestasinya menyabet piala Citra Penulis Skenario Adaptasi Terbaik FFI 2006, lewat Denias, Senandung di Atas Awan.

WAGE bukan sekadar biopik melainkan drama noir, cerita perburuan bumnan dengan polisi, dan penjahatnya justru WAGE. Banyak hal dalam kehidupannya belum diketahui masyarakat, termasuk sebagai jumahs dan novelis," Sebut John yang sebagai kolektor berhasil memiliki sebuah buku langka bertajuk Perawan Desa karya Wage.

Produser Andy Shafik menambahkan, "Salah satu inti terpenting film WAGE adalah lagu asli Indonesia Raya yang scharusnya dinyanyikan tiga stanza, bukan berhenti hanya pada stanza pertama. Dua stanza berikutnya sangat penting karena justru berisi doa dan harapan bagi tanah air kita..

Produser eksckutif sekaligus komposer musik fllm Wage M. Subchi Azal Tuni, telah menciptakan banyak lagu theme song WAGE yang mengandung Iirik penuh makna serta melodi yang menyentuh hati, seolah benar-benar menggambarkan cinta Wage itu sendiri yang meluap-luap untuk Tanah Airnya. Bekerja sama dengan musisi Indra Qadarsih (Jakarta, 1 April 1971), keduanya bersama menata scoring musik WAGE di studio Ploso, Jombang. Mantan keyboardis SLANK ini bahkan mensakralkan kerjanya.

Saksikan Film WAGE mulai tanggal 09 November 2017 di bioskop

(War)

    Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
    2014 KABAR KINI .com - All rights reserved