Rabu, 08 November 2017 - 12:09:01 WIB
Yuk! Kita Lawan Diabetis Dengan Gaya Hidup!
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: GAYA HIDUP

dr. Samuel Oetoro, SpGK (dokter ahli nutrisi)


Jakarta, (Kabar-kini.com) - Sejumlah data tentang penyakit diabetes di Indonesia cukup mencengangkan. Sample Registration Survey 2014 menyatakan diabetes menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia.

Sementara data International Diabates Federation (IDF) menunjukkan, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia.

Kemudian, prevalensi diabetes di Indonesia cenderung meningkat, yaitu dari 5.7% tahun 2007, menjadi 6,9% tahun 2013. Lebih mencengangkan Iagi, seperti dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), 2/3 diabetesi [sebutan untuk penderita diabates] di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes.

Penyakit mematikan ini masih menjadi persoalan serius dunia, termasuk Indonesia. Indonesia merupakan negara yang berada di urutan ke-4 dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia seteIah India, China, dan Amerika Serikat.

Bahkan jumlah pengidap diabetes terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data WHO memperkirakanjumlah penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 di Indonesia akan meningkat signifikan hingga 21,3 juta jiwa pada 2030 mendatang.

Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 201 7 melakukan wawancara untuk menghitung proporsi diabetes melitus pada usia 15 tahun ke atas. Definisinya, sebagai diabates, jika pernah didiagnosis menderita kencing manis oIeh dokter atau belum pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh dokter tetapi dalam sebulan terakhir mengalamigejala sering Iapar, sering Iemes, sering buang air kecil dalam jumlah banyak dan berat badan turun. Hasilnya, tahun 2013 meningkat hampir dua kali Iipat dibandingkan tahun 2007.

Diabetes sering disebut-sebut sebagai ibu dari berbagai penyakit. Pasalnya, diabetes bisa menjadi penyebab dari banyak komplikasi penyakit, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit pada mata, penyakit pada kaki, penyakit saraf stroke, dan masih banyak Iagi Iainnya.

Buntut dari itu semua ternyata berdampak pada ekonami negara. Mengapa demikian?

Seperti dikutip dan katadata.com. Indonesia diprediksi mengalami patensi kerugian hingga Rp 71 ribu triliun akibat penyakit tidak menular, pada periode 2015-2035. Evidence & Analitycs, Iembaga riset kesehatan yang berbasis di Manchester, Inggris, menyebutkan kerugian itu merupakan akumulasi dari biaya pengobatan dan berbagai pengeluaran sebagai dampak penyakit, termasuk hilangnya produktivitas penderita di usia kerja.

Sebenarnya, Indonesia bisa mengurangi beban perekonomian hingga sekitar Rp 16.900 triliun. Caranya, dengan mengatasi angka kematian akibat beberapa penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, dan diabetes melitus.

Masih dari sumber yang sama, peneliti University of Manchester, Gindo Tampubolon, mengatakan penghematan dapat dilakukan apabiia pemerintah berfokus kepada pengurangan kematian penyakit tersebut Sebaliknya, apabila pemerintah tidak melakukan apapun hingga 2035, total beban perekonomian mencapai US$ 5,4 triliun, sekira Rp 70.200 triliun.

Besaran tersebut dihitung berdasarkan produktivitas yang hilang-dengan variabel usia kematian di bawah 60 tahun-dan biaya perawatan secara akumulatif Metode penghitungannya menggunakan Reynold Scores.

Kepala Sub Direktorat Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Niken Wastu, membenarkan, beban biaya pelayanan medis akibat penyakitjantung, stroke, ginjal, diabetes; dan kanker pada tahun Ialu mencapai hampir Rp 13 triliun.

Lulu, situs hellosehatcom memaparkan, dua dari tiga orang penderita diabetes tidak sadar mengidap penyakit tersebut. Kemudian faktor terbesar diabetes yakni 7besitas serta kurang aktifitas dan diiringi konsumsi makanan cepatsaji menjadi penyebabnya.Dikutip dari : indonesianyouth.org

SOLUSI HIDUP SEHAT BERSAMA DIABETES :

Walaupun ancaman berbagai penyakit seperti diabetes mengancam masyarakat lndonesia, namun kenyataannya aspirasi masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus meningkat tajam . Mintel - sebuah perusahaan riset belum lama ini mempublikasikan bahwa 75% konsumen Indonesia menginginkan diet yang Iebih lat, dan 58% kaum urban di Indonesia bercita-cita untuk berolahraga Iebih nyak. Trend seperti ini bukan saja hanya terjadi dijakarta namun juga hampir seluruh kota besar di Indonesia yang membuatperubahan trend gaya hidup hat yang Iebih aktif

Tak heran apabila, hampir disemua kota besar terjadi pergeseran gaya hidup yang mgat besar. Misalnya saja semakin banyak kota di Indonesia yang

pemberlakukan "Car Free Day" di akhir pekan untuk memberikan kesempatan

bagi warga untuk melakukan aktifitas olah-raga seperti bersepeda dan berjalan aki. Olahraga Iari misalnya kini menjadi salah satu olah raga paling populer dan hampir tiap minggu diberbagai kota selalu ada perlombaan mini marathon hingga marathon.

Walaupun minat masyarakat terus meningkat dibidang kebugaran, namun hal ini belum di-ikuti secara seksama dengan disiplin diet yang baik. Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013 menemukcm bahwa sebanyak 26 persen masyarakat terkategorikan kurang beraktivitasfisik. Selain itu, sebanyak 93,5 persen masyarakat tergolong kurang makan sayur atau buah.

Riskesdas juga mencatat, bahwa Iebih dari 77 persen anak di atas 10 tahun gemar mengonsumsi bumbu penyedap, kemudian 53 persen senang makanan manis, dan 40 persen masih gemar makanan berIemak.

Menurut data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian pada 2011, diketahui bahwa konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia hanya 34,55 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi sayuran sebagai salah satu sumber serat bagi kesehatan, selain buah, di Indonesia hanya 40,35 kilogram per kapita per cahun.

"jumlah konsumsi buah inijauh sekali dibandingkan dengan rekomendasi FAO sebesar 73 kiIOgram per kapita per tahun dan standar kecukupan untuk sehat sebesar 91,25 kilogram per kapita per tahun, " kata Fiastuti Witjaksono, Kepala Departemen Gizi RSCM dan spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

"Data Iainnya menunjukkan Indonesia adalah negara konsumsi buah terendah di regionalAsia," kata Fiastuti sembari menunjukkan data Balitbang Kementan 2011, yang menggambarkan perbandingan konsumsi buah Indonesia dengan Singapura, China, Vietnam, dan Kamboja.

Dalam data tersebut terlihat bahwa China menjadi negara terbanyak mengonsumsi buah dengan capaian Iebih dari 250 kilogram buah per kapita per tahun. Disusul dengan Singapore dan Vietnam, lalu Kamboja Indonesiatidak sampe 50 kilogran per kapita per tahun.

Melihat kesenjangan ini sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat yang 153 at SEMBUH telah diluncurkan pada tanggal 1 November 201 7. Tujuannya adalah melakukan edukasi, motivasi dan inspirasi terhadap sebuah gaya hidup

sehat yang Iebih bertanggungjawab. Pada tanggal yang sama SEMBUH telah mengambil Iangkah pertama dengan meluncurkan akun sosmed SEMBUTOPIA di twitter, facebook dan instagram. Bersama dengan pihak-pihak yang berkepentingan, dimasa mendatang SEMBUH akan mengadakan sejumlah

kegiatan seperti seminar kesehatan penerbitan buku kerja sama edukasi dengan para professional kesehatan.

Pada bulan Oktober 201 7 sebuah kegiatan ujicoba telah dilaksanakan di beberapa kota dalam rangka BREAST CANCER AWARENESS MONTH dan bulan November 201 7 akan dilaksanakan kegiatan WORLD DIABETES DAY.(Waris)

    Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
    2014 KABAR KINI .com - All rights reserved