Kamis, 28 Desember 2017 - 13:49:34 WIB
Situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak Di Destinasi Pariwisata Dan Perjalanan
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: HEADLINE



Jakarta, (kabar-kini.com) - Catatan Akhir Tahun ECPAT Indonesia, 2017 Meningkat Jumlah Wisatawan Pelaku Kejahatan Seksual Anak Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia sampai dengan tahun 2017 beriumlah 9,25 iuta orang atau meningkat 25,68% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan ini memberikan kontribusi terhadap pemasukan negara sekitar 11 juta Dollar Amerika. Namun dalam konteks perlindungan anak ternyata sektor pariwisata juga bisa memberikan dampak negatif, terutama munculnya kekerasan dan eksploitasi seksual anak.

Menurut laporan dari berbagai media internasional, Indonesia merupakan salah satu negara tujuan para pelaku kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang menyaru sebagai wisatawan. Atas situasi itu, Ahmad Sofian, Koordinator ECPAT "Indonesia menyatakan : "Praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan sejumlah wisatawan berlangsung dijumlah destinasi wisata dan memanfaatkan fasilitas pariwisata".

Beliau menambahkan bahwa dari hasil penelitian dan assessment yang dilakukan oleh ECPAT Indonesia bersama Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016-2017 di sejumlah tempat wisata yaitu Pulau Seribu (DKI Jakarta), Karang Asem (Bali), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Toba Samosir dan Teluk Dalam (Sumatera Utara) menunjukkan bahwa seluruh destinasi wisata tersebut ditemukan praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh sejumlah wisatawan.

"Pada tahun 2015, ECPAT Indonesia iuga melakukan penelitian di tiga Iokasi wisata yaitu Lombok (NTB), Kefamenahu (NIT) dan Jakarta Barat (DKI Jakarta). Di tiga Iokasi yang diteliti ini pun ditemukan kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh wisatawan", tambahnya.

Di samping kekerasan dan eksploitas seksual anak yang berlangsung di destinasi wisata, yang Iebih mengkhawatirkan lagi adalah masuknya sejumlah pedofil ke destinasi wisata Indonesia.

Menurut Direktorat Jenderal lmigrasi RI, sampai dengan September 2017, telah mendeportasi sebanyak 107 orang yang diduga sebagai pedofil dari berbagai bandara di lndonesia. Atas dasar itu, ECPAT Indonesia melakukan analisis terhadap 14 kasus WNA yang diduga sebagai pedofil tahun 2017 yang dideportasi tersebut, dan menemukan statistik.


Dari data yang dipaparkan di atas dapat diSimpulkan bahwa destinasi wisata Indonesia sangat rawan atas berbagai bentuk kejahatan seksual yang menimpa anak-anak.

Oleh karena itu ECPAT Indonesia mendorong pemerintah dan stakeholder pariwisata untuk segara melakukan Iangkah- Iangkah pencegahan, perlindungan dan penyelematan destinasi wisata Indonesia dari para sejumlah wisatawan yang merusak reputasi destinasi wisata Indonesia.

"Memperketat masuknya wisatawan yang berpotensi melakukan kekerasan seksual anak di berbagai bandara di Indonesia perIu segera dilakukan. Selain itu, edukasi kepada usaha wisata agar memperhatikan wisatawan yang melakukan kejahatan seksual pada anak. Masyarakat di destinasi wisata juga perlu dididik agar tidak terIaIu mempercayakan anak-anak mereka beragam dengan wisatawan".

Demikian disampaikan Koordinator ECPAT Indonesia. Beau juga mendesak agar Kementerian Pariwisata (ran Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak perlu meiakukan; kolaborasi daIam menyeiamatkan destinasi wisata dari para wisatawan yang tidak bertanggungjawab.

"Selama ini kedua kementerian ini belum menunjukkan kolaborasi yang kongkrit dalam mencegah dan melindungi destinasi wisata dari praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak".Ungkapnya.


    Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
    2014 KABAR KINI .com - All rights reserved