Jumat, 02 Maret 2018 - 12:39:37 WIB
BPOM Menyetujui Pirfenidone untuk Pengobatan Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF) di Indonesia
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: HEADLINE


lPF adalah sebuah penyakit paru-paru langka yang tidak dapal disembuhkan. Rata-rata, pasien benahan hidup selama dua hingga lima tahun sesudah lerdiagnosis

. Pirfenidone adalah pengobatan anti-fibrolik panama untuk pasien IPF yang membantu mengurangi penurunnn fungsi paru secara relatif sebesar 41pesen

Pirfenidone disetujui penggunaannya oleh BPOM melalui jalur evaluasi Fast Track (100 hari kerja) dan kini telah tersedia di Indonesia.

Jakarta, kabar-kini.com - Pasien Idiopalhic Pulmonary Fibrosis (IPF) lndonesna kinil memlhki sebuah harapan baru unluk penanganan penyaknnya karena BPOM telah menyetujui obat inovam pirfenidone sebagai salah satu pihhan pengobatan. IPF adalah sebuah penyakit fatal yang disebabkan oleh luka parut yang bersifat progresif pada paru-paru sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan menghalangi organ hati, otot-otot serta organ-organ vital mendapatkan cukup oksigen untuk berfungsi dengan baik. Penyakit dapat memburuk dengan cepat atau lambat, namun lambat laun paru-paru akan mengeras dan berhenti bekerja same sekali Akses terhadap pirfenidone sangat penting karena manfaat yang tawarkannya.

Hari ini merupakan hari bersejarah bagi pasien dan keluarga pasien yang hidup dengan penyakit matikan serta tidak bisa disembuhkan ini," ucap Lucia Erniawati, Head of Market Access and porate Affairs of PT Roche Indonesia. "Dengan persetujuan lini, pasien lPF akhirnya memiliki suatu pilihan terapi yang menurunkan laju perburukan penyakit.

IPF dikategorikan sebagai penyakit langka dan penyakit orphan oleh European Medicines Agency (EMA. 2011) The US Food and Drug Admlnlstratlon (FDA. 2014] dan Japanese Pharmaceutical and Medical Devices Agency (PDMA. 2008). Suatu penyakit dapat disebut sebagai penyakit langka karena prevalensinya yang rendah dan secara umum merupakan penyakit kronis yang mengancam nyawa penderitanya dan obatnya pun dikategorikan sebagai obat orphan.

Menurut Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), berdasarkan prevalensi diperkirakan di Indonesia terdapat 5 577 kasus lPF pada tahun 2017. la juga menyarnpaikan. "Diagnosis sesungguhnya cukup rendah terkan berbagai faktor mulai dari rendahnya pengetahuan masyarakat dan dokter umum serta kurangnya akses terhadap diagnosis dan pengobatan yang zepaL ngkax monalatas lPF melebihi banyak jenis kanker seperti kanker payudara, ginjal dan kulit. Karena Itu kita harus mewaspadai bahaya di balik lPF dan pentingnya akses pengobatan terhadap penyakit langka ini"

Menilik sejarahnya, pilihan terapi lPF sangat terbatas dan berbagai kombinasi terapi gagal menunjukkan hasil yang bank dalam penelitian klinis. Dr. Sita Andarini. PhD, Sp.P(K) Katua Kelompok Kerja Interstitial Lung Disease menyampaikan bahwa kini sudah ada harapan baru bagi pasien lPF di Indonesia dengan ketersediaan pirfenidone. "Data telah menunjukkan bahwa pirfenidone menjaga fungsi paru-paru dengan memperlambat progresivitas lPF dengan penurunan risiko mortalitas dan menawarkan terapi dengan prom keamanan yang baik sena memiliki pengalaman klinis selama hampir IO tahun. Akses terhadap pirfenidone sebagai sebuah obat orphan sangat penting untuk pasien lPF yang memenuhi krileria."

Hadir dalam diskusi panel, Peni Utami. Ketua Yayasan MPS dan Penyakit Langka menyampaikan "Obat orphan bertujuan untuk mengatasi penyakit orphan seperti IPF yang membuat pasien udak berdaya. fatal dan tidak terpenuhi secara esensial di antara populasi pasien yang hanya sedikil. Hadirnya pengobalan terbaru pirfenidone dapat memberikan harapan kepada pasien IPF dan keluarganya"(War)


    Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
    2014 KABAR KINI .com - All rights reserved