Minggu, 14 Juli 2019 - 19:58:54 WIB
Sebuah Peristiwa Kuliner Tradisi Nasi Tumpeng Indonesia
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: HEADLINE


Kabar-kini.com, Jakarta - Masyarakat di pulau Jawa dan Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting, seperti perayaan kelahlran atau ulang tahun serta berbagai acara syukuran Iainnya. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng.

Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung Merapi Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru tempat bersemayam dewa dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan Ieluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisionaI Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian AI Quran.

Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan Iagi namanya "Buceng" dibuat dari ketan; akronim dari:yen mlebu kudu sing kenceng bila masuk harus dengan sungguh sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan) Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al lsra ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan ". Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Tumpeng merupakan bagian panting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah Iainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atauyang paling dituakan 17 antara orang-orang yang hadir. lni dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orangyang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut; Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan raga syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.

Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut acara awam sebagai tumpengan di Yogjakarta misalnya, berkembang tradisi tumpengan pada malam tanggal 17 Agustus Hari Proklamasi kemerdekaan Indonesia untuk mendoakan keselamatan negara.
(Waris)

    Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
    2014 KABAR KINI .com - All rights reserved