Connect with us

Nasional

Manfaatkan Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme, Mahasiswa KKN UNDIP Bantu Masyarakat Pemalang

Fokusindonesia.com, Pemalang,- Isu global dan permasalahan masyarakat yang masih sangat perlu diperhatikan adalah isu penanganan sampah. Sebuah riset menunjukkan bahwa sebanyak 60% jenis sampah di Indonesia adalah sampah organik. Penumpukan dan pembusukan sampah di TPA yang tidak terolah dapat menghasilkan gas metana yang dapat merusak ekosistem, pemanasan global, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Tidak hanya di kota-kota besar, permasalahan penanganan sampah juga dialami di banyak desa, termasuk di Desa Gapura, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jumat (20/01/2023).

Menumpuknya limbah sampah organik membuat Hermalia Nur Indahsari, Mahasiswa KKN TIM I Tahun 2023 dari Universitas Diponegoro berinovasi menciptakan program kerja dalam rangka pengelolaan sampah organik yaitu pembuatan eco enzyme. Eco enzyme sendiri adalah cairan serbaguna yang mempunyai beragam manfaat. Dengan kata lain, Eco enzyme berfungsi sebagai disinfektan karena kandungan alkohol dan asam asetat di dalamnya. Alkohol atau asam asetat dihasilkan dari proses metabolisme bakteri yang secara alami terdapat dalam sampah organik.

Pada dasarnya, eco enzyme mempercepat reaksi bio-kimia dialam untuk menghasilkan enzim yang berguna. Enzim yang dihasilkan dapat mengubah amonia menjadi nitrat (NO3), hormon alami dan nutrisi untuk tanaman, sementara itu mengubah CO2 menjadi karbonat (CO3) yang bermanfaat bagi tanaman laut dan kehidupan laut. Cairan ini berasal dari berbagai jenis sampah organik yang dapat terurai seperti sisa makanan, daun kering, kulit buah dan sayur.

Eco Enzyme bisa menjadi cairan serbaguna sebagai pembersih rumah tangga yaitu pembersih lantai, deterjen pencuci, dll. Selain itu juga bermanfaat dalam sektor pertanian dan juga peternakan karena dapat dijadikan sebagai pupuk alami dan pestisida yang efektif. Melihat banyaknya potensi manfaat, Mahasiswa KKN Program Studi Teknik Kimia merancang program kerja ini dengan sangat terperinci.

Dengan pengabdian selama 45 hari kerja yaitu sejak tanggal 3 Januari hingga 15 Februari 2023, program kerja ini disusun melalui berbagai tahapan dimulai dari survey lokasi TPA Desa Gapura, pengajuan proposal hingga diadakan praktik pembuatan cairan Eco Enzyme kepada warga desa.

Dengan menerapkan ilmu dan pengetahuan yang didapatkan selama belajar di Teknik Kimia Universitas Diponegoro, mereka mengelolanya dengan mempertimbangkan rasio komposisi. Bahan dan komponen yang dibutuhkan, bahan dasar pembuatan Eco enzyme adalah sampah organik berupa kulit buah dan sayur yang layu, gula cokelat dan air bersih. Sampah didapatkan dari limbah rumah tangga penduduk di Desa Gapura. Gula cokelat merupakan gula yang berasal dari ekstrak tebu yang ditambahkan sirup molase hingga kecokelatan. Rasio perbandingan bahan yang dibutuhkan antara sampah, gula, dan air adalah rasio 3 : 1 : 10. Misal 300 gr kulit buah : 100 gr gula : 1 liter air. Campur semua sampah organik dan jika sudah rata tuang ke dalam botol, setelah itu barulah dituangkan gula cokelat atau brown sugar dan air bersih. Gunakan tempat yang bisa memuai karena wadah penuh gas sehingga perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkannya. Kemudian setelah tercampur rata selanjutnya adalah simpan di tempat kering dan sejuk bersuhu ruang. Diamkan cairan tersebut selama 3 bulan dan buka setiap hari di 2 minggu pertama, kemudian 2-3 hari sekali, lalu seminggu sekali. Terdapat banyak gas yang dihasilkan dalam minggu pertama. Akan terdapat lapisan putih pada permukaan larutan dan jika cacing muncul maka tambahkan gula coklat segenggam, aduk kembali dan tutup.

Eco Enzyme dapat disaring menggunakan kain kasa atau saringan setelah 3 bulan penuh fermentasi. Kemudian cairan yang sudah disaring dapat dikemas dalam botol sehingga siap digunakan. Demi berkontribusi pada pemeliharaan ekosistem dan lingkungan, Mahasiswa Teknik Kimia ini sebisa mungkin memaksimalkan program ini sesuai pantauan dan sistematis. Pelaksanaan program kerja pembuatan cairan Eco Enzyme ini jelas membuat penduduk desa menjadi hemat dalam pengeluaran pembersih rumah.

Selain itu, program ini bermanfaat dalam menjaga kelestarian dan keasrian desa karena gas metana yang dikeluarkan dari sampah dapat menangkap 21 kali lebih banyak panas daripada CO2 yang mana panas tersebut dapat memperburuk global warming. Cairan ajaib ini juga bersifat sebagai air purify sebab dapat membersihkan udara dari racun, polusi dan menghilangkan bau. Kemudian dengan diciptakannya cairan ini juga dapat sebagai fertilizer atau penumbuh tanaman.

Selain mengadakan praktik pembuatan Eco Enzyme, pelaksanaan program kerja KKN ini juga dilengkapi dengan adanya tabel resep pemanfaatan cairan Eco Enzyme beserta rasio komposisi dan buku panduan pembuatan. Kesimpulan pelaksanaan program kerja KKN Universitas Diponegoro Program Studi Teknik Kimia ini berhasil menanamkan pemahaman baru kepada penduduk Desa Gapura, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang mengenai pentingnya mengurangi pemanasan global dan penjagaan ekosistem serta pengolahan sampah organik sebagai cairan Eco Enzyme yang bermanfaat. Dengan demikian, penduduk desa juga memperoleh keterampilan baru dalam mengelola limbah organik.

Dengan adanya program kerja yang telah diimplementasikan dalam kegiatan KKN ini semoga dapat senantiasa menjaga ekosistem dan lingkungan Desa Gapura, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Nasional