Home / Ragam Berita / 116 Perlintasan Berisiko Telah Ditutup, KAI Percepat Pengurangan Titik Rawan Kecelakaan

116 Perlintasan Berisiko Telah Ditutup, KAI Percepat Pengurangan Titik Rawan Kecelakaan

67 Persen dari Target Penutupan 172 Perlintasan Prioritas Telah Direalisasikan hingga 2 Juni 2026

Kabar-kini.com. Mobilitas masyarakat terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial di berbagai daerah. Di tengah pertumbuhan tersebut, keselamatan menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan sistem transportasi yang andal. Salah satu fokus yang terus dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah mengurangi titik-titik perlintasan sebidang yang memiliki risiko tinggi terhadap perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, hingga 2 Juni 2026 KAI bersama berbagai pemangku kepentingan telah menutup 116 dari 172 perlintasan prioritas yang menjadi target penanganan secara nasional. Capaian tersebut setara dengan 67 persen dari target yang telah ditetapkan, sementara 56 titik lainnya masih dalam proses penyelesaian melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan masyarakat setempat.

Program ini merupakan bagian dari penanganan 1.810 perlintasan tidak terjaga yang tersebar di wilayah operasi KAI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 172 perlintasan dengan lebar jalan kurang dari dua meter direkomendasikan untuk ditutup karena memiliki tingkat risiko tinggi terhadap keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Sementara itu, 1.638 titik lainnya menjadi prioritas peningkatan keselamatan melalui berbagai langkah pengamanan sesuai kondisi di lapangan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa penutupan perlintasan dilakukan berdasarkan identifikasi dan kajian keselamatan yang komprehensif. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi titik-titik risiko yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Setiap perlintasan yang ditutup telah melalui proses evaluasi dan pertimbangan keselamatan. Fokus utama kami adalah mengurangi titik-titik risiko yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Semakin banyak perlintasan berisiko yang berhasil ditutup, semakin besar peluang kita menciptakan perjalanan yang lebih aman bagi masyarakat dan operasional kereta api,” ujar Anne.

Menurut Anne, capaian 116 titik yang telah ditutup menunjukkan semakin kuatnya kolaborasi antara KAI, pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan keselamatan transportasi. Dukungan tersebut menjadi faktor penting karena setiap perlintasan memiliki karakteristik, kondisi lingkungan, dan kebutuhan penanganan yang berbeda.

Kolaborasi tersebut menjadi semakin relevan mengingat perlintasan sebidang merupakan titik pertemuan antara jalur kereta api dan jalan raya yang memerlukan disiplin serta kewaspadaan tinggi dari seluruh pengguna jalan. Oleh karena itu, pengurangan jumlah perlintasan berisiko menjadi salah satu langkah preventif yang efektif untuk menekan potensi kecelakaan.

Data KAI menunjukkan bahwa dalam periode 2023 hingga 24 Mei 2026 telah terjadi 1.074 kecelakaan di perlintasan sebidang dengan total 964 korban, terdiri atas 370 korban meninggal dunia, 247 korban luka berat, dan 347 korban luka ringan. Sebanyak 80 persen kejadian terjadi di perlintasan tidak terjaga, sementara 88 persen kecelakaan dipicu oleh perilaku menerobos saat kereta api akan melintas. Data tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan memerlukan upaya berkelanjutan dari seluruh pihak, baik melalui peningkatan fasilitas maupun kepatuhan terhadap aturan berlalu lintas.

Anne menambahkan bahwa manfaat penutupan perlintasan sering kali tidak langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun setiap titik yang berhasil ditutup berarti berkurangnya satu potensi risiko yang dapat membahayakan masyarakat di masa mendatang.

“Ketika sebuah perlintasan berisiko berhasil ditutup, yang sesungguhnya sedang dilakukan adalah mengurangi peluang terjadinya kecelakaan. Keselamatan selalu dimulai dari langkah pencegahan. Karena itu, dukungan masyarakat sangat penting agar perlintasan yang telah ditutup tidak dibuka kembali secara mandiri dan manfaat keselamatannya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tutup Anne.

KAI akan terus mempercepat penyelesaian 56 titik yang masih berproses sehingga target penutupan 172 perlintasan prioritas dapat segera tercapai. Melalui langkah tersebut, KAI berharap semakin banyak titik rawan yang dapat dikurangi, sehingga perjalanan kereta api maupun aktivitas masyarakat di sekitar jalur rel dapat berlangsung dengan lebih aman, tertib, dan selamat.

*VP Corporate Communication KAI*
*Anne Purba*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *