Home / Ragam Berita / Lebih dari Seabad Rel Lampung, KAI Perkuat Konektivitas Sumatra Bagian Selatan

Lebih dari Seabad Rel Lampung, KAI Perkuat Konektivitas Sumatra Bagian Selatan

_Sepanjang Januari–Mei 2026, layanan kereta api di wilayah Lampung–Sumatra Selatan melayani 498.104 pelanggan dan 11,44 juta ton barang_

Kabar-kini.com, Arahan Presiden Prabowo Subianto agar pengembangan sistem kereta api nasional mendapat perhatian utama memberi konteks baru bagi sejarah panjang perkeretaapian di Sumatra. Di Lampung, rel kereta api telah hadir lebih dari satu abad. Jalur yang dahulu dibangun untuk menghubungkan pusat produksi, pelabuhan, dan kota kini berkembang menjadi penggerak mobilitas masyarakat serta distribusi barang strategis di Sumatra bagian selatan.

Jalur kereta api di Lampung mulai dibangun pada 1911 oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen atau ZSS pada masa kolonial Belanda. Pada fase awal, pembangunan diarahkan untuk menghubungkan Tanjungkarang dengan wilayah penghasil komoditas di Sumatra Selatan. Dalam perkembangannya, jaringan rel Lampung tersambung dengan kawasan pelabuhan, termasuk Panjang dan Tarahan, sehingga sejak awal memiliki peran penting dalam distribusi hasil bumi, batu bara, dan kebutuhan industri.

“Sejarah rel di Lampung menunjukkan bahwa kereta api sejak awal hadir untuk membuka akses. Dari jalur hasil bumi, pelabuhan, hingga pusat permukiman, kereta api membentuk konektivitas yang sampai hari ini masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan ekonomi wilayah,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.

Saat ini, wilayah operasi KAI di Lampung dan sebagian Sumatra Selatan memiliki jalur operasi sepanjang 451,280 km’sp dengan 47 stasiun operasi. Jaringan tersebut membentang dari Bandar Lampung, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu, Muara Enim, hingga Prabumulih. Stasiun Tanjungkarang dan Tarahan menjadi simpul besar, sementara Kotabumi dan Baturaja turut memperkuat layanan penumpang serta barang di lintas tersebut.

Pada layanan penumpang, KAI melayani KA Rajabasa relasi Tanjungkarang–Kertapati dan KA Kuala Stabas relasi Tanjungkarang–Baturaja PP. Sepanjang Januari–Mei 2026, layanan penumpang di wilayah ini mencatat 498.104 pelanggan. Rinciannya, KA Rajabasa 2 relasi Tanjungkarang–Kertapati melayani 185.167 pelanggan, sedangkan KA Kuala Stabas relasi Tanjungkarang–Baturaja PP melayani 312.937 pelanggan.

Di sisi barang, kereta api memegang peran besar dalam rantai logistik Sumatra bagian selatan. Sepanjang Januari–Mei 2026, KAI melayani 11.437.080 ton barang melalui 4.029 perjalanan kereta api barang. Batu bara relasi Tanjung Enim Baru–Tarahan menjadi komoditas terbesar dengan 11.280.793 ton. Komoditas lain yang dilayani meliputi semen zak 83.680 ton, BBM 52.593 ton, dan semen curah 20.014 ton.

Besarnya volume barang tersebut memperlihatkan posisi Lampung sebagai gerbang logistik penting di selatan Sumatra. Jalur menuju Tarahan, Panjang, Tanjungkarang, Kotabumi, Baturaja, hingga Kertapati menghubungkan kawasan produksi, industri, pelabuhan, dan pusat konsumsi. Dalam konteks biaya logistik nasional, rel memberi kapasitas angkut besar, konsumsi energi lebih efisien, serta kepastian distribusi bagi komoditas strategis.

“Potensi Lampung perlu dibaca dari peta konektivitasnya. Di sana terdapat pelabuhan, sentra industri, lintas penumpang, dan jalur barang dengan volume besar. Ketika rel diperkuat, manfaatnya dapat dirasakan melalui distribusi yang lebih efisien, mobilitas masyarakat yang lebih mudah, dan daya saing wilayah yang semakin baik,” kata Anne.

Secara historis, Lampung juga memiliki jejak jalur lama seperti Garuntang–Telukbetung yang dahulu memperkuat hubungan antara kota dan kawasan pelabuhan. Perubahan zaman membuat sebagian jejak lama berubah fungsi, sementara jaringan aktif kini terus melayani kebutuhan masyarakat dan industri. Dari sejarah tersebut, terlihat bahwa perkembangan kota, pelabuhan, dan kawasan ekonomi di Lampung sejak lama terhubung dengan rel.

Ke depan, potensi perkeretaapian Lampung berada pada penguatan logistik energi, distribusi bahan bangunan, konektivitas pelabuhan, serta mobilitas penumpang lintas Lampung–Sumatra Selatan. Posisi Lampung sebagai gerbang selatan Sumatra juga sejalan dengan arah pengembangan jaringan perkeretaapian nasional, termasuk konektivitas antardaerah dan pemerataan ekonomi berbasis transportasi massal.

“KAI terus memperkuat keselamatan, keandalan operasi, dan kualitas layanan agar sejarah panjang rel di Lampung memberi manfaat yang semakin relevan. Kereta api bukan cerita masa lalu semata, melainkan bagian dari cara wilayah tumbuh, masyarakat terhubung, dan ekonomi bergerak lebih efisien,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *