_Sembilan stasiun yang pada 2025 belum melayani pelanggan naik-turun kini layani 184.136 pelanggan Januari–Mei 2026, membuka harapan baru bagi pedagang kecil, kuliner lokal, transportasi lanjutan, dan UMK sekitar stasiun_
Ada suara yang kerap luput dari riuh perjalanan kereta api, seperti suara kompor kecil yang dinyalakan di rumah sederhana, bunyi plastik pembungkus nasi yang dirapikan satu per satu, dan doa pelan seorang pedagang agar hari itu ada pelanggan yang singgah.
Bagi pelanggan, stasiun adalah tempat berangkat dan tiba. Bagi pedagang kecil di sekitarnya, stasiun adalah tempat menaruh harapan. Setiap kereta api yang berhenti membawa kemungkinan baru seperti nasi bungkus yang terbeli, kopi panas yang diminum, gorengan yang habis sebelum siang, ojek lokal yang mendapat pelanggan, serta oleh-oleh rumahan yang akhirnya dibawa pergi ke kota lain.
Perjalanan akhir pekan dengan kereta api sering terlihat sederhana. Seseorang membeli tiket, membawa tas, lalu duduk menunggu jadwal keberangkatan. Namun di luar jendela perjalanan itu, ada banyak keluarga yang ikut menggantungkan hidup pada ramainya mobilitas pelanggan. Ada Ibu yang bangun lebih awal untuk memasak bekal, ada Bapak yang menata lapak kecil dekat stasiun, ada pelaku UMK yang berharap produknya dikenal lebih luas melalui tangan-tangan pelanggan yang singgah.
Karena itu, ketika sebuah stasiun kembali melayani naik-turun pelanggan, yang hadir bukan semata angka dalam laporan. Yang hadir adalah napas baru bagi kawasan sekitarnya. Titik yang sebelumnya sepi mulai mengenal langkah pelanggan. Lapak yang dulu ragu dibuka mulai berani menata dagangan. Warga yang sebelumnya hanya melihat kereta api melintas kini melihat peluang datang lebih dekat ke halaman hidup mereka.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2026 KAI Group melayani 214.045.803 pelanggan, meningkat 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 199.663.907 pelanggan. Angka tersebut berasal dari layanan KA JJ dan Lokal KAI sebanyak 24.372.733 pelanggan, KAI Commuter 169.047.494 pelanggan, KAI Bandara 2.905.389 pelanggan, LRT Jabodebek 13.211.856 pelanggan, KAI Wisata 131.843 pelanggan, LRT Sumsel 1.815.017 pelanggan, KA Makassar–Parepare 145.735 pelanggan, dan Whoosh 2.415.736 pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, mobilitas pelanggan kereta api membawa arti yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Setiap pelanggan yang datang ke stasiun dapat menjadi pembeli, tamu, pengguna jasa, atau pembawa kabar baik bagi produk lokal.
“Di balik satu tiket kereta api, ada banyak tangan kecil yang ikut merasakan manfaatnya. Ada pedagang bekal, penjual kopi, warung sarapan, pengemudi transportasi lanjutan, pembuat camilan daerah, sampai pelaku UMK oleh-oleh. Ketika pelanggan datang ke stasiun, yang hidup bukan cuma perjalanan, tetapi juga harapan banyak keluarga,” ujar Anne.
Untuk layanan KA JJ dan Lokal KAI, sepanjang Januari–Mei 2026 tercatat 24.372.733 pelanggan, tumbuh 9,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 22.168.570 pelanggan. Pada Mei 2026 saja, volume pelanggan mencapai 5.154.293 pelanggan, naik 15,6 persen dibanding Mei 2025 sebanyak 4.458.901 pelanggan. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kereta api semakin menjadi pilihan masyarakat untuk perjalanan harian, keluarga, pendidikan, pekerjaan, wisata, serta perjalanan akhir pekan.
Namun, cerita yang paling menyentuh justru tampak dari stasiun-stasiun kecil. Berdasarkan data volume naik-turun pelanggan per stasiun, terdapat 9 stasiun yang sepanjang 2025 tercatat tidak melayani pelanggan naik-turun, lalu mulai mencatat aktivitas pelanggan pada Januari–Mei 2026. Di titik-titik seperti ini, angka yang dulu kosong berubah menjadi kehidupan.
Sepanjang Januari–Mei 2026, 9 stasiun tersebut mencatat total 184.136 pelanggan naik-turun, terdiri atas 91.850 pelanggan naik dan 92.286 pelanggan turun. Stasiun-stasiun itu yakni Wonogiri 63.667 pelanggan, Kayutanam 52.475 pelanggan, Sicincin 41.681 pelanggan, Sukoharjo 8.424 pelanggan, Solo Kota 8.107 pelanggan, Comal 6.135 pelanggan, Pasarnguter 3.007 pelanggan, Plabuan 398 pelanggan, dan Rajapolah 242 pelanggan.
Bagi laporan, angka itu adalah data. Bagi warga sekitar stasiun, angka itu bisa berarti pembeli pertama setelah lapak dibuka. Bisa berarti dagangan yang habis lebih cepat. Bisa berarti ojek lokal mendapat pelanggan. Bisa berarti warung kecil berani menambah stok. Bisa berarti seorang ibu pulang dengan uang yang cukup untuk belanja dapur esok hari.
Salah satu contoh yang kuat terlihat di Stasiun Comal, Daop 4 Semarang. Sepanjang 2025, stasiun ini tercatat belum melayani pelanggan naik-turun. Pada Januari, Februari, dan Maret 2026, angkanya juga masih 0. Namun pada April 2026 mulai tercatat 512 pelanggan naik-turun, kemudian meningkat menjadi 5.623 pelanggan naik-turun pada Mei 2026. Total Januari–Mei 2026 mencapai 6.135 pelanggan, terdiri atas 3.027 pelanggan naik dan 3.108 pelanggan turun.
“Bagi pedagang kecil, perubahan dari 0 menjadi ribuan pelanggan bukan angka biasa. Itu bisa menjadi perubahan nasib harian. Di sekitar stasiun, pelanggan yang datang membawa peluang bagi nasi bungkus, kopi, gorengan, jajanan pasar, transportasi lokal, hingga oleh-oleh khas daerah,” kata Anne.
Cerita serupa juga terlihat di Plabuan dan Rajapolah. Kedua stasiun tersebut tercatat belum memiliki pelanggan naik-turun sepanjang 2025 serta Januari–Maret 2026. Pada April dan Mei 2026, Plabuan mulai mencatat total 398 pelanggan, sedangkan Rajapolah mencatat 242 pelanggan. Angkanya mungkin belum besar, tetapi bagi ekonomi kecil di sekitar stasiun, setiap pelanggan tetap berarti.
Di wilayah lain, Wonogiri menjadi contoh bagaimana layanan stasiun dapat membuka arus mobilitas baru. Setelah pada 2025 belum melayani pelanggan naik-turun, Wonogiri melayani 63.667 pelanggan naik-turun sepanjang Januari–Mei 2026. Angka tersebut terdiri atas 30.703 pelanggan naik dan 32.964 pelanggan turun. Pada Mei 2026 saja, Wonogiri mencatat 14.407 pelanggan naik-turun.
Di Sumatera Barat, Kayutanam dan Sicincin juga mencatat perkembangan penting. Pada 2025, keduanya belum melayani pelanggan naik-turun. Sepanjang Januari–Mei 2026, Kayutanam melayani 52.475 pelanggan naik-turun, sedangkan Sicincin melayani 41.681 pelanggan naik-turun. Jika digabungkan, dua stasiun ini melayani 94.156 pelanggan naik-turun dalam lima bulan pertama 2026.
Menurut Anne, stasiun kecil memiliki peran sosial yang sangat dekat dengan masyarakat. Stasiun menjadi tempat pelanggan berangkat dan tiba, sekaligus tempat ekonomi warga bertemu dengan arus perjalanan. Ketika pelanggan turun di sebuah stasiun, mereka mungkin mencari sarapan, membeli air minum, memesan kendaraan lanjutan, bertanya arah, atau membawa pulang makanan khas setempat.
“Stasiun kecil sering menyimpan cerita besar. Bagi pelanggan, stasiun adalah tempat memulai perjalanan. Bagi pedagang kecil, stasiun adalah tempat menunggu rezeki. Ketika layanan naik-turun pelanggan hadir, yang berubah bukan cuma angka volume, tetapi juga suasana kampung, pasar kecil, warung, dan kehidupan keluarga di sekitarnya,” ujar Anne.
KAI juga memperkuat perhatian kepada pelaku usaha kecil melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL. Pada Triwulan I 2026, KAI menyiapkan sejumlah Program Prioritas di bidang Pengembangan UMK, yaitu KAI Certified dengan target 25 UMK, KAI Next Class dengan target 80 UMK, dan KAI Creative Space dengan target 10 UMK. Ketiga program tersebut dijadwalkan direalisasikan pada Triwulan II 2026.
Selain itu, melalui program KAI Exhibition, KAI menargetkan keikutsertaan 50 UMK. Pada Triwulan I 2026, program ini telah mengikutsertakan 8 UMK dalam pameran The 26th Jakarta International Handicraft Trade Fair atau INACRAFT 2026. Kegiatan tersebut meningkatkan eksposur dan akses pasar bagi Mitra Binaan, memperkuat branding produk, meningkatkan kepercayaan diri pelaku UMK, serta membuka peluang kemitraan dengan pembeli maupun pemangku kepentingan lainnya.
Anne mengatakan, mobilitas pelanggan dan pemberdayaan UMK harus saling menguatkan. Kereta api menghadirkan akses, sedangkan pedagang kecil dan UMK menghadirkan rasa, karya, dan identitas daerah. Saat keduanya bertemu, perjalanan pelanggan menjadi lebih berkesan dan ekonomi lokal memperoleh ruang untuk tumbuh.
“Weekend dengan kereta api bisa menjadi cara sederhana untuk membantu pedagang kecil. Beli bekal dari warung sekitar stasiun, nikmati kuliner lokal di kota tujuan, bawa pulang oleh-oleh dari UMK daerah. Hal-hal kecil seperti itu dapat membuat perjalanan terasa lebih hangat dan manfaatnya sampai ke banyak rumah,” kata Anne.
KAI mengajak masyarakat menjadikan perjalanan akhir pekan sebagai bagian dari dukungan terhadap ekonomi lokal. Pelanggan dapat merencanakan perjalanan melalui Access by KAI, situs kai.id, loket stasiun, serta kanal resmi penjualan tiket lainnya. KAI juga mengimbau pelanggan untuk tiba lebih awal, menjaga barang bawaan, menjaga kebersihan, dan menghargai para pelaku usaha kecil yang menjadi bagian dari ekosistem perjalanan kereta api.
“Setiap pelanggan yang naik dan turun di stasiun membawa cerita. Ada yang pulang ke keluarga, ada yang berwisata, ada yang bekerja, ada yang mencari peluang. Dan di sepanjang perjalanan itu, ada pedagang kecil yang ikut berdoa agar stasiun tetap ramai. Karena bagi mereka, suara kereta api yang datang sering kali adalah suara harapan,” tutup Anne.






