_Saat ini Gambir melayani 34 KA reguler per hari dan dilintasi 326 perjalanan KRL Bogor Line, pengembangan disiapkan bertahap agar pelanggan lebih mudah berpindah moda, mengakses pusat kota, dan menikmati layanan stasiun yang lebih lengkap_
Kabar-kini.com, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir dengan arah yang lebih terhubung dengan kebutuhan pelanggan dan kehidupan kota. Setelah sebelumnya KAI menyampaikan pengembangan Gambir sebagai pusat hospitality dan leisure, penguatan berikutnya diarahkan pada integrasi yaitu bagaimana Gambir dapat menjadi stasiun yang mudah dicapai, nyaman digunakan, dan tersambung dengan berbagai moda transportasi di pusat Jakarta.
Gambir selama ini dikenal sebagai pintu perjalanan KA Jarak Jauh dari pusat Jakarta. Posisi Gambir juga sangat dekat dengan denyut aktivitas kota. Stasiun ini berada di sekitar Monas, kawasan pemerintahan, perkantoran, hotel, ruang publik, serta jaringan transportasi lanjutan. Karena itu, pengembangan Gambir dipandang penting agar pengalaman pelanggan semakin utuh, mulai dari datang ke stasiun, menunggu perjalanan, berpindah moda, hingga melanjutkan aktivitas di pusat kota.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, stasiun di pusat kota memiliki peran yang semakin luas. Stasiun kini menjadi ruang pertemuan antara perjalanan, layanan publik, kegiatan ekonomi, kuliner, ritel, budaya, dan ruang kota. Arah pengembangan Gambir ditempatkan dalam semangat tersebut, dengan tetap menjaga fungsi utama sebagai stasiun KA Jarak Jauh.
“Gambir kami siapkan sebagai ruang perjalanan yang lebih lengkap. Pelanggan datang untuk naik kereta api, dan di saat yang sama mereka membutuhkan akses yang mudah, alur yang jelas, tempat menunggu yang nyaman, pilihan makanan dan minuman, layanan perjalanan, serta koneksi ke kawasan sekitar. Pengembangan Gambir diarahkan agar semua kebutuhan itu tertata dalam satu pengalaman yang lebih baik,” ujar Anne.
Saat ini Stasiun Gambir melayani 34 KA reguler per hari atau sekitar 78 pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KA Jarak Jauh. Di sisi lain, jalur layang Gambir juga dilintasi 326 perjalanan KRL Bogor Line setiap hari pada lintas Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo (pp).
Anne menjelaskan, pada tahap saat ini Commuter Line yang melintas di Gambir belum melayani naik dan turun pelanggan di stasiun tersebut. Karena itu, pembahasan mengenai integrasi KRL di Gambir ditempatkan sebagai proses bertahap yang membutuhkan kesiapan prasarana, pengaturan operasi, keselamatan, kapasitas lintas, dan koordinasi dengan regulator.
“Hari ini Gambir melayani KA Jarak Jauh dan dilintasi Commuter Line. Ruang yang sedang disiapkan adalah bagaimana integrasi itu dapat berjalan lebih baik ketika seluruh aspek teknis sudah siap. Prinsipnya, pelanggan mendapat akses yang lebih mudah, sementara keselamatan dan keandalan operasi tetap menjadi prioritas,” kata Anne.
Kebutuhan integrasi tersebut semakin relevan jika melihat pergerakan pelanggan Commuter Line di Jabodetabek. Volume KRL Jabodetabek naik dari 217.964.892 perjalanan pada 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025. Dalam tiga tahun, kenaikannya mencapai 126.656.933 perjalanan atau 58,11%.
Bogor Line menjadi lintas dengan jumlah pelanggan terbesar. Pada 2022, Bogor Line melayani 102.054.022 pelanggan. Jumlah tersebut naik menjadi 133.040.885 pelanggan pada 2023, kemudian 145.920.264 pelanggan pada 2024, dan mencapai 155.009.997 pelanggan pada 2025. Pada Januari–Juni 2026, Bogor Line telah melayani 78.077.679 pelanggan.
Menurut Anne, angka tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan dari Bogor, Depok, Cibinong, Nambo, dan kawasan sekitarnya menuju Jakarta telah menjadi bagian penting dari mobilitas harian masyarakat. Jika pada tahap berikutnya Gambir dapat melayani naik dan turun pelanggan Commuter Line sesuai kesiapan teknis, masyarakat memiliki akses yang lebih dekat menuju Monas, kantor pemerintahan, hotel, ruang publik, pusat kegiatan, serta perjalanan KA Jarak Jauh.
“Bagi pelanggan dari Bogor Line, Gambir akan memberi akses yang lebih dekat ke pusat Jakarta. Bagi pelanggan KA Jarak Jauh, integrasi itu membuka pilihan lanjutan yang lebih luas setelah tiba di Gambir. Dari sini, perjalanan menjadi lebih ringkas, lebih mudah dipahami, dan lebih dekat dengan tujuan pelanggan,” ujar Anne.
Pengembangan Gambir juga berjalan berdampingan dengan penguatan Stasiun Manggarai. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam satu ekosistem perkeretaapian Jabodetabek. Manggarai tetap menjadi central station dan pusat perpindahan antarlintas, sedangkan Gambir diperkuat sebagai gerbang KA Jarak Jauh di pusat kota, akses menuju kawasan Monas, ruang layanan pelanggan, serta potensi titik integrasi Commuter Line.
“Manggarai dan Gambir punya peran yang saling melengkapi. Manggarai mengelola perpindahan antarlintas dalam skala besar. Gambir memperkuat akses ke pusat kota, perjalanan KA Jarak Jauh, kawasan Monas, dan pengalaman pelanggan. Pembagian peran ini membuat sistem transportasi publik Jabodetabek lebih tertata,” kata Anne.
Dalam Kajian Optimalisasi Bisnis dan Visioning Stasiun Gambir, pengembangan Gambir ditempatkan sebagai Modern Station & Lifestyle Hub dengan tiga pilar, yaitu mobility, culture, dan lifestyle. Konsep ini menempatkan mobilitas sebagai dasar pengembangan, lalu diperkuat dengan ruang budaya, layanan pelanggan, komersial, dan ruang publik yang menyatu dengan kawasan Medan Merdeka.
Arah tersebut membuat Gambir dipandang sebagai ruang kota yang menghubungkan banyak aktivitas. Di dalamnya, pelanggan dapat berpindah moda, menikmati kuliner, memenuhi kebutuhan perjalanan, mengakses layanan, menunggu dengan nyaman, serta terhubung dengan kawasan Monas dan pusat aktivitas Jakarta.
Kajian tersebut juga memuat rencana koneksi dengan Transjakarta, MRT, kawasan pedestrian, ruang publik Monas, ritel, kuliner, lounge, hotel, rooftop park, ruang pertemuan, serta ruang publik. Dalam konsep desainnya, terdapat pula peron Commuter Line, concourse KRL, intermoda hub di lower ground, serta penataan alur kedatangan dan keberangkatan KA Jarak Jauh.
Anne mengatakan, pengembangan Gambir diarahkan untuk menata cara pelanggan menggunakan stasiun. Sirkulasi pejalan kaki dirancang lebih terbuka, ruang keberangkatan dan kedatangan dibuat lebih mudah dipahami, kendaraan diarahkan ke area lower ground, dan lantai dasar disiapkan menjadi ruang yang lebih ramah bagi pejalan kaki.
“Integrasi terasa ketika pelanggan tidak bingung harus berjalan ke mana, mudah menemukan moda lanjutan, nyaman saat menunggu, dan tetap dekat dengan layanan yang dibutuhkan. Karena itu, Gambir disiapkan sebagai stasiun yang lebih rapi, lebih manusiawi, dan lebih sesuai dengan ritme pusat kota,” ujar Anne.
Saat ini ekosistem layanan di Gambir sudah terbentuk. Berdasarkan data tenant Stasiun Gambir 2026, terdapat 132 area atau titik komersial yang telah tersewa, terdiri dari 67 space dan 65 open space. Tenant yang hadir mencakup kuliner, kedai kopi, minimarket, ritel, toko oleh-oleh, toko buku, lounge, loker, hotel transit, pod, ATM, vending machine, parkir, media luar ruang, serta layanan pendukung perjalanan.
Keberadaan tenant tersebut memperlihatkan bahwa Gambir telah menjadi ruang aktivitas pelanggan sebelum dan sesudah perjalanan. Ketika akses antarmoda, jalur pejalan kaki, ruang tunggu, dan fungsi komersial ditata lebih baik, manfaatnya dapat dirasakan pelanggan, pelaku usaha, pekerja, pemasok, pengelola layanan kebersihan, keamanan, parkir, logistik tenant, serta usaha pendukung di sekitar kawasan.
Berdasarkan kajian pengembangan, fasilitas ritel baru memiliki luas area komersial yang dapat disewakan sekitar 15.479 m², sedangkan hotel dan ruang pertemuan sekitar 3.756 m². Apabila pengembangan berjalan sesuai kajian, area ritel baru berpotensi menampung sekitar 220–310 unit usaha kecil dan menengah, dengan gambaran ukuran 50–70 m² per tenant.
Jika setiap unit menyerap 2–3 pekerja, potensi tenaga kerja langsung dari tenant dapat mencapai sekitar 440–930 orang. Di luar tenant, kawasan hospitality dan leisure juga membutuhkan tenaga pendukung seperti kebersihan, keamanan, teknisi gedung, pengelola parkir, customer service, pengelola taman, pengelola rooftop, loading, logistik, dan pengelolaan sampah. Dengan demikian, pada fase operasional penuh, pengembangan Gambir berpotensi membuka sekitar 500–1.000 peluang kerja langsung dan pendukung, mengikuti desain akhir, komposisi tenant, tahapan pembangunan, dan pola operasional kawasan.
Anne mengatakan, Gambir disiapkan sebagai stasiun yang mampu menjawab perubahan pola perjalanan masyarakat. Di satu sisi, Gambir tetap menjadi pintu penting KA Jarak Jauh. Di sisi lain, posisinya yang dilintasi Commuter Line dan berada dekat pusat aktivitas Jakarta membuat integrasi menjadi kebutuhan yang perlu disiapkan sejak sekarang.
“KAI ingin Gambir menjadi stasiun yang semakin mudah diakses, nyaman digunakan, dan dekat dengan kebutuhan pelanggan. Dengan pengembangan yang bertahap, Gambir disiapkan untuk menghubungkan perjalanan antarkota, mobilitas harian, transportasi lanjutan, kuliner, ritel, budaya, dan aktivitas kawasan pusat Jakarta dalam satu ruang yang lebih tertata,” tutup Anne.






