Home / Transportasi / KAI Layani 10 Juta Pelanggan Commuter Line Area VIII Surabaya hingga Juli 2026

KAI Layani 10 Juta Pelanggan Commuter Line Area VIII Surabaya hingga Juli 2026

 

_Naik 8,15 persen, jaringan kereta api lokal menghubungkan Surabaya dengan berbagai kota hingga destinasi wisata di Jawa Timur_

Kabar-kini.com, Memasuki akhir pekan, kereta api lokal menjadi salah satu pilihan masyarakat Jawa Timur untuk bepergian antarkota, bertemu keluarga, menikmati kuliner, hingga mengunjungi destinasi wisata. Jaringan Commuter Line Area VIII Surabaya menghubungkan Surabaya dengan sejumlah kota melalui perjalanan yang terjadwal setiap hari.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Commuter Line Area VIII Surabaya yang dikelola KAI Commuter telah melayani 10.009.552 pelanggan sepanjang Januari–Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 8,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 9.255.362 pelanggan, atau bertambah 754.190 pelanggan.

Peningkatan juga terlihat dalam catatan tahunan. Pada 2023, layanan ini mencatat 13.360.638 pelanggan, kemudian meningkat 10,26 persen menjadi 14.731.053 pelanggan pada 2024. Pada 2025, jumlahnya kembali meningkat 8,73 persen menjadi 16.016.534 pelanggan.

Dalam dua tahun, jumlah pelanggan bertambah sekitar 2,66 juta orang atau 19,88 persen dibandingkan 2023. Angka tersebut memperlihatkan semakin besarnya kebutuhan perjalanan antarkota di Jawa Timur yang memiliki hubungan erat dalam aktivitas pekerjaan, pendidikan, perdagangan, keluarga, dan pariwisata.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api lokal memiliki peran yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Dalam tujuh bulan pertama 2026, lebih dari 10 juta pelanggan telah menggunakan Commuter Line Area VIII Surabaya. Di balik angka tersebut ada masyarakat yang bekerja, belajar, berdagang, bertemu keluarga, hingga bepergian menikmati akhir pekan. Jaringan kereta api membuat berbagai kota semakin mudah dijangkau,” ujar Anne.

Saat ini, layanan Commuter Line Area VIII Surabaya terdiri dari 50 perjalanan setiap hari, meliputi Commuter Line Dhoho, Penataran, Jenggala, Arjonegoro, Supas, dan Blorasura. Jaringan tersebut menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lamongan, Bojonegoro, hingga Cepu.

Commuter Line Dhoho menghubungkan Surabaya dengan Kertosono, Kediri, Tulungagung, hingga Blitar. Lintas ini membuka pilihan perjalanan menuju Kediri dengan wisata kota dan kulinernya, serta Blitar yang memiliki sejumlah destinasi sejarah, termasuk kawasan Makam Bung Karno.

Sementara itu, Commuter Line Penataran menghubungkan Surabaya dengan Malang hingga Blitar. Malang menjadi salah satu tujuan populer untuk perjalanan akhir pekan dengan ragam wisata kota, kuliner, kawasan heritage Kayutangan, serta akses menuju berbagai destinasi di Malang Raya.

Di sisi lain, Commuter Line Jenggala melayani perjalanan Surabaya, Sidoarjo, hingga Mojokerto. Mojokerto menjadi salah satu pintu menuju kawasan peninggalan Majapahit di Trowulan, sementara Sidoarjo menawarkan beragam pusat kuliner dan aktivitas ekonomi yang terhubung erat dengan Surabaya.

Pada lintas utara, Commuter Line Arjonegoro menghubungkan Sidoarjo dan Surabaya dengan Lamongan hingga Bojonegoro. Selain menopang perjalanan masyarakat untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari, lintas ini memberi pilihan menuju beragam wisata kuliner, budaya, dan destinasi lokal di sepanjang jalur pantura Jawa Timur.

Ke arah timur, Commuter Line Supas menghubungkan Surabaya dengan Pasuruan hingga Probolinggo. Probolinggo dikenal sebagai salah satu pintu perjalanan menuju kawasan Bromo, sedangkan Pasuruan memiliki beragam pilihan wisata alam, budaya, dan kuliner.

Sementara Commuter Line Blorasura menghubungkan Surabaya Pasar Turi dengan Lamongan, Bojonegoro, hingga Cepu. Layanan ini memperpanjang keterhubungan masyarakat dari pusat kegiatan Surabaya menuju wilayah barat Jawa Timur hingga perbatasan Jawa Tengah.

Surabaya sendiri menjadi salah satu tujuan perjalanan dari berbagai kota tersebut. Dari stasiun-stasiun di pusat kota, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tunjungan, Peneleh, Kota Lama Surabaya, museum, pusat kuliner, hingga berbagai ruang publik.

Menurut Anne, karakter perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana jaringan kereta api lokal ikut mendekatkan aktivitas antardaerah. Perjalanan yang sebelumnya dipandang sebagai perjalanan antarkota kini dapat menjadi bagian dari rutinitas masyarakat sehari-hari maupun pilihan menikmati waktu bersama keluarga saat akhir pekan.

“Setiap lintas memiliki cerita dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Ada pelanggan yang berangkat untuk bekerja, mahasiswa yang kembali ke daerah asal, keluarga yang saling berkunjung, hingga masyarakat yang ingin menikmati kota lain pada akhir pekan. Kami ingin layanan kereta api terus menjadi pilihan yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *