_Januari hingga Agustus 2026, Stasiun Sei Bejangkar layani 42.289 pelanggan, tumbuh 10 persen dari periode yang sama di tahun 2025_
Lebih dari satu abad yang lalu, tepatnya pada 6 Agustus 1915, peluit kereta api pertama kali menggema di Desa Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara. Jalur Rantau Laban–Tanjungbalai yang dibangun oleh perusahaan kereta api era kolonial, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), resmi dibuka. Sejak saat itu, Stasiun Sei Bejangkar berdiri menjadi saksi bisu dinamika kehidupan pesisir timur Sumatera Utara.
Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan keberadaan stasiun ini memiliki arti penting dalam sejarah perkeretaapian sekaligus penopang mobilitas warga setempat.
“Stasiun Sei Bejangkar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Lebih dari satu abad setelah mulai beroperasi, stasiun ini tetap dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan kereta api,” ujar Anwar.
Di kawasan Desa Sei Bejangkar dan sekitarnya, kehidupan warga masih sangat dipengaruhi oleh sektor pertanian dan perkebunan. Bagi mereka, kereta api bukan sekadar sarana angkutan, melainkan urat nadi yang menghubungkan desa-desa pertanian dengan pusat-pusat ekonomi regional di Sumatera Utara.
Dahulu, rel perkeretaapian di wilayah ini dirancang terutama untuk mengangkut komoditas perkebunan. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan wilayah, fungsinya bergeser menjadi moda transportasi massal yang andal dan terjangkau bagi masyarakat umum.
Saat ini, Stasiun Sei Bejangkar melayani perjalanan KA Putri Deli relasi Medan–Tanjungbalai (pulang-pergi). Layanan ini menjadi pilihan utama warga Kecamatan Sei Balai dan sekitarnya yang hendak bepergian ke Kota Medan, Tanjungbalai, maupun kota-kota lain di sepanjang perlintasan tersebut.
Peran vital stasiun ini tercermin dari tren pertumbuhan jumlah penumpang yang konsisten dalam tiga tahun terakhir (2024–2026). Pada periode Januari hingga Agustus 2024, Stasiun Sei Bejangkar melayani 35.466 pelanggan naik dan turun. Angka tersebut meningkat 8 persen pada periode yang sama di tahun 2025 menjadi 38.284 pelanggan.
Tren positif ini berlanjut pada Januari hingga Agustus 2026, di mana volume pelanggan naik lagi sebesar 10 persen menjadi 42.289 orang. Pertumbuhan secara beruntun ini membuktikan bahwa moda transportasi berbasis rel kian diminati dan menjadi andalan warga lokal.
Anwar menambahkan, keberadaan stasiun berusia lebih dari satu abad ini menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur sejarah dapat terus adaptif dan relevan menanggapi perubahan zaman serta kebutuhan mobilitas warga.
“Perjalanan Stasiun Sei Bejangkar merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian Sumatera Utara sekaligus perjalanan masyarakat di wilayah Batu Bara. KAI terus menjaga pelayanan perjalanan kereta api agar stasiun ini dapat terus dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu pilihan transportasi,” tutur Anwar.






