Home / Transportasi / Dari Merak hingga Ketapang, Krueng Mane hingga Tanjungkarang: Cerita Perjalanan dari Ujung Jaringan Kereta Api Jawa–Sumatra

Dari Merak hingga Ketapang, Krueng Mane hingga Tanjungkarang: Cerita Perjalanan dari Ujung Jaringan Kereta Api Jawa–Sumatra

_Stasiun di tepi barat, timur, dan selatan jaringan kereta api terus menghubungkan sejarah, aktivitas masyarakat, pariwisata, hingga perjalanan antarpulau_

Kabar-kini.com, Jaringan kereta api Indonesia memiliki cerita menarik di titik-titik terjauhnya. Di Pulau Jawa terdapat Stasiun Merak di sisi barat dan Stasiun Ketapang di ujung timur. Di Sumatra, perjalanan kereta api penumpang aktif menjangkau Krueng Mane di Aceh pada sisi barat jaringan, sementara Tanjungkarang di Lampung menjadi salah satu pintu utama perjalanan kereta api di sisi tenggara Sumatra.

Keempatnya lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda. Ada yang berkembang bersama pelabuhan, ada yang menjadi penghubung kota pesisir, dan ada pula yang menjadi bagian dari pembangunan jaringan kereta api sejak lebih dari satu abad lalu. Hingga kini, stasiun-stasiun tersebut tetap hidup bersama mobilitas masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan posisi geografis setiap stasiun membuat perjalanan kereta api memiliki karakter tersendiri.

“Menarik melihat bagaimana rel menjangkau berbagai sisi Jawa dan Sumatra. Di beberapa tempat perjalanan bertemu dengan pelabuhan dan laut, di tempat lain kereta api menjadi penghubung masyarakat antarkota. Jejak sejarah itu masih digunakan masyarakat sampai hari ini,” ujar Anne.

Di barat Pulau Jawa, Stasiun Merak berada dekat dengan Pelabuhan Merak yang menghubungkan Jawa dan Sumatra melalui penyeberangan Selat Sunda. Jejak kereta api menuju Merak telah hadir sejak awal abad ke-20 dan sampai sekarang stasiun tersebut melayani perjalanan masyarakat pada lintas Rangkasbitung–Merak. Kedekatan stasiun dan pelabuhan membuat perjalanan dapat diteruskan menuju Sumatra melalui penyeberangan Merak–Bakauheni.

Di sisi timur Jawa, perjalanan rel mencapai Stasiun Ketapang di Banyuwangi. Sejarah jaringan kereta api di kawasan tersebut bermula ketika jalur menuju Banyuwangi dibuka pada 2 Februari 1903. Seiring perkembangan kawasan dan perpindahan aktivitas pelabuhan, jaringan kemudian menjangkau Ketapang. Kini stasiun tersebut menjadi salah satu akses menuju Banyuwangi sekaligus perjalanan lanjutan ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.

Aktivitasnya terus bertumbuh. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Ketapang mencatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 292.618 pelanggan berangkat dan 322.543 pelanggan tiba. Jumlah tersebut meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 566.643 pergerakan.

Cerita berbeda berada jauh di barat Sumatra. Stasiun Krueng Mane di Aceh menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif pada jaringan KA Cut Meutia yang menghubungkan Krueng Geukueh–Bungkaih–Krueng Mane. Kehadiran layanan tersebut membuat perjalanan kereta api tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Aceh sekaligus meneruskan jejak panjang perkeretaapian di bagian utara Sumatra.

Sementara di sisi tenggara Sumatra, Stasiun Tanjungkarang memiliki perjalanan sejarah yang erat dengan perkembangan jalur kereta api dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun tersebut diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada masa awal, Tanjungkarang ikut melayani pergerakan pegawai dan material dari Pelabuhan Panjang sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu stasiun utama di Lampung.

Lebih dari satu abad kemudian, aktivitasnya tetap kuat. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Tanjungkarang mencatat 562.993 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Jumlah tersebut tumbuh 13,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 493.881 pergerakan.

Anne mengatakan keberadaan titik-titik tersebut memperlihatkan bahwa stasiun memiliki makna lebih luas daripada tempat memulai dan mengakhiri perjalanan.

“Dari Merak yang menghadap Selat Sunda, Ketapang yang membuka perjalanan menuju Bali, Krueng Mane di Aceh, hingga Tanjungkarang yang tumbuh bersama sejarah Lampung, setiap stasiun memiliki cerita wilayahnya sendiri. Rel menghubungkan cerita itu dengan kehidupan masyarakat hari ini, dan kami ingin konektivitas tersebut terus memberi manfaat bagi perjalanan, ekonomi, keluarga, dan pariwisata di berbagai daerah,” tutup Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *