Home / Ragam Berita / KAI Siapkan Kajian FRMCS untuk Sistem Komunikasi Perkeretaapian Generasi Berikutnya

KAI Siapkan Kajian FRMCS untuk Sistem Komunikasi Perkeretaapian Generasi Berikutnya

_Kajian membahas kebutuhan operasi, keselamatan, jaringan komunikasi, pembiayaan, hingga tahapan penerapan_

Kabar-kini.com, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menyiapkan kajian Future Railway Mobile Communication System (FRMCS) sebagai bagian dari perencanaan teknologi komunikasi perkeretaapian untuk kebutuhan jangka panjang. FRMCS merupakan sistem komunikasi generasi berikutnya berbasis teknologi 5G yang dirancang untuk mendukung pertukaran suara, data, dan video dalam kegiatan operasional kereta api.

Pembahasan tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion FRMCS for Train Operation and Services Ultimate Solution di Jakarta Railway Center, Senin (12/10). Forum melibatkan KAI, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Digital, akademisi, serta pelaku industri telekomunikasi. Topik yang dibahas mencakup kebutuhan operasional, kesiapan teknologi, penggunaan frekuensi, pilihan penyediaan jaringan, pembiayaan, hingga tahapan penerapannya.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan pengembangan FRMCS perlu dimulai dari kebutuhan yang benar-benar muncul di lapangan. Teknologi yang digunakan harus relevan dengan operasi kereta api serta memberi manfaat terhadap keselamatan, efisiensi, dan keandalan layanan.

“Teknologi harus menjawab kebutuhan yang nyata. Karena itu, kajian FRMCS melihat berbagai kemungkinan pemanfaatannya, mulai dari komunikasi yang berkaitan dengan keselamatan, pengaturan perjalanan, pemeliharaan sarana dan prasarana, hingga kebutuhan dalam kondisi darurat,” ujar I Gede.

Kajian KAI mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang dapat didukung melalui FRMCS, antara lain komunikasi antara petugas dan pusat kendali, informasi posisi kereta api, pemantauan kondisi sarana, pengelolaan perjalanan, pemantauan perlintasan, penanganan gangguan, serta komunikasi pada situasi darurat.

Menurut I Gede, komunikasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan operasi harus mendapatkan tingkat keandalan yang lebih tinggi dibandingkan layanan komunikasi umum.

“Dalam operasi kereta api, ada komunikasi yang harus tersedia setiap saat karena berkaitan dengan keselamatan perjalanan. Sistem yang digunakan harus dirancang agar informasi penting dapat tersampaikan secara cepat, aman, dan sesuai prioritas,” kata I Gede.

FRMCS juga dirancang agar beberapa kebutuhan komunikasi dapat berjalan dalam satu jaringan dengan tingkat prioritas yang berbeda. Dengan pendekatan tersebut, komunikasi untuk keselamatan, operasi, dan fungsi pendukung dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing.

Penggunaan frekuensi menjadi bagian lain yang dibahas dalam kajian. Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 8 Tahun 2026 tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia telah mencantumkan pita 1.900–1.910 MHz untuk FRMCS dan teknologi lanjutan bagi keperluan persinyalan kereta api.

Meski sudah tersedia dalam aturan, pemanfaatan pita tersebut masih memerlukan pengujian dan kajian lebih lanjut. Hal ini penting karena frekuensi yang digunakan harus mampu mendukung komunikasi kereta api secara stabil tanpa terganggu jaringan lain di sekitarnya.

Kajian FRMCS juga mempertimbangkan kondisi sistem komunikasi perkeretaapian yang saat ini masih beragam. Beberapa layanan menggunakan sistem analog, sementara layanan lain sudah memakai teknologi digital sesuai kebutuhan masing-masing

Kondisi tersebut membuat proses perubahan menuju teknologi baru perlu dilakukan secara bertahap. Menurut I Gede, sistem yang sudah berjalan tetap harus dapat digunakan selama proses persiapan dan pengembangan dilakukan.

“Kita harus melihat kondisi yang ada sekarang, kebutuhan ke depan, kesiapan perangkat, regulasi, investasi, serta proses peralihannya. Perubahan teknologi perlu dirancang dengan hati-hati agar kegiatan operasional tetap berjalan dengan andal,” ujarnya.

KAI juga mengkaji beberapa pilihan dalam penyediaan jaringan komunikasi. Pilihannya dapat berupa pembangunan dan pengelolaan sendiri maupun kerja sama dengan operator telekomunikasi. Setiap skema akan dibandingkan dari sisi kebutuhan operasional, investasi, keamanan, biaya pengelolaan, dan keberlanjutan penggunaannya.

Pengembangan FRMCS direncanakan melalui beberapa tahap. Prosesnya dimulai dari pemetaan kondisi saat ini dan kebutuhan KAI, kemudian dilanjutkan dengan perancangan sistem, pengujian di lapangan, penerapan terbatas sebagai percontohan, hingga kemungkinan pengoperasian secara bertahap. Peta jalan tersebut masih berupa rekomendasi awal dan akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut bersama regulator serta pemangku kepentingan terkait.

“FRMCS merupakan pembahasan jangka panjang. Fokus kami saat ini adalah memastikan kajiannya matang sehingga setiap keputusan nantinya dibuat berdasarkan kebutuhan operasional, teknologi yang sesuai, perhitungan investasi yang sehat, dan dukungan regulasi. Koordinasi dengan DJKA, Komdigi, akademisi, serta industri menjadi bagian penting dari proses tersebut,” tutup I Gede.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *