_Dari Mutiara Selatan hingga Fajar dan Senja Utama, nama-nama kereta api yang dikenal lintas generasi terus menjadi bagian dari perjalanan masyarakat sepanjang Januari–September 2026_
Ada nama kereta api yang telah dikenal masyarakat jauh sebelum pemesanan tiket dapat dilakukan melalui telepon genggam. Nama-nama tersebut menemani perjalanan menuju kampung halaman, kota tempat bekerja, bangku pendidikan, hingga pertemuan dengan keluarga. Puluhan tahun berlalu, sejumlah nama kereta api masih digunakan dan menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lima layanan kereta api dengan jejak sejarah panjang, yakni Mutiara Selatan, Fajar Utama Solo, Senja Utama Solo, Fajar Utama Yogyakarta, dan Senja Utama Yogyakarta, secara gabungan melayani 1.258.364 pelanggan sepanjang Januari–September 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perjalanan panjang layanan tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah perkeretaapian terus berjalan berdampingan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
“Setiap nama kereta api memiliki cerita tersendiri. Ada yang sudah dikenal sejak generasi orang tua hingga anak-anaknya. Di balik nama tersebut terdapat perjalanan panjang, perubahan teknologi, serta pengalaman pelanggan yang terus berkembang mengikuti zaman,” ujar Anne.
Salah satunya KA Mutiara Selatan yang mulai beroperasi pada 17 Agustus 1972. Lebih dari lima dekade kemudian, layanan yang menghubungkan Bandung dan Surabaya melalui lintas selatan Jawa ini masih melayani 342.036 pelanggan sepanjang Januari–September 2026, meningkat 0,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jejak sejarah berikutnya hadir melalui KA Senja Utama Solo yang mulai melayani perjalanan Solo–Jakarta pada 14 Oktober 1978. Nama Senja Utama kemudian menjadi bagian dari identitas perjalanan masyarakat di koridor tersebut, disusul Fajar Utama Solo yang melengkapi pilihan waktu perjalanan.
Hampir 48 tahun sejak perjalanan awal Senja Utama Solo, kedua layanan tersebut secara gabungan melayani 320.037 pelanggan sepanjang Januari–September 2026. Fajar Utama Solo mencatat 164.342 pelanggan, meningkat 6,80 persen secara tahunan, sementara Senja Utama Solo melayani 155.695 pelanggan atau tumbuh 4,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Cerita serupa hadir melalui Fajar Utama Yogyakarta dan Senja Utama Yogyakarta yang telah dikenal sejak dekade 1980-an. Kedua nama tersebut memiliki identitas yang berkaitan dengan karakter waktu perjalanan, yakni fajar dan senja, yang telah akrab bagi pelanggan di koridor Jakarta–Yogyakarta.
Sepanjang Januari–September 2026, Fajar Utama Yogyakarta melayani 306.328 pelanggan, sementara Senja Utama Yogyakarta mencatat 289.963 pelanggan. Secara gabungan, kedua layanan tersebut melayani 596.291 pelanggan dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Menurut Anne, keberlanjutan penggunaan layanan yang memiliki sejarah panjang menunjukkan bahwa perkembangan perkeretaapian juga membawa cerita dan identitas yang telah tumbuh bersama masyarakat.
“Kereta api terus berkembang mengikuti kebutuhan pelanggan. Rangkaian semakin modern, fasilitas semakin beragam, dan sistem pemesanan menjadi lebih mudah. Di tengah perkembangan tersebut, sejarah serta identitas layanan tetap menjadi bagian penting yang patut dihargai,” kata Anne.
Transformasi tersebut salah satunya terlihat pada Fajar dan Senja Utama Solo. Pada awal pengoperasiannya, Senja Utama Solo menggunakan kereta kelas bisnis produksi Goša dari Yugoslavia. Kini, kedua layanan tersebut telah menggunakan rangkaian generasi terbaru berbahan baja nirkarat produksi PT INKA di Madiun.
Perkembangan sarana dari masa ke masa memperlihatkan bagaimana satu layanan kereta api dapat melewati berbagai fase kemajuan industri perkeretaapian nasional, sementara nama yang dikenal masyarakat tetap menjadi penghubung dengan sejarah perjalanannya.
Dalam skala yang lebih luas, KAI Group melayani 394.443.300 pelanggan sepanjang Januari–September 2026, meningkat 7,06 persen dibandingkan 368.429.917 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus layanan KA Jarak Jauh dan Lokal KAI, jumlah pelanggan mencapai 43.959.327 orang, tumbuh 8,33 persen secara tahunan.
Anne menambahkan, sejarah perkeretaapian Indonesia mencakup banyak hal, mulai dari bangunan stasiun, lokomotif, sarana bersejarah, hingga nama kereta yang telah dikenal masyarakat selama puluhan tahun. Seluruhnya merupakan bagian dari perjalanan transportasi nasional yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Nama kereta api menyimpan cerita mengenai perjalanan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya. KAI menghargai rekam jejak sejarah tersebut sembari terus mengembangkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. Harapannya, cerita panjang perkeretaapian Indonesia tetap dapat dikenali dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutup Anne.






